Widget HTML #1

Kesalahan Branding Bisnis UKM yang Bikin Produk Gagal

Satu Prinsip Penting Memahami Brand Besar

COND.MY.ID - Branding bisnis sering disalahpahami sebagai urusan logo dan kemasan. Padahal, inti branding justru ada pada kejelasan makna di kepala konsumen.

Kesalahan memahami hal ini membuat banyak produk UKM gagal berkembang, bukan karena kualitasnya buruk, tetapi karena identitas mereknya membingungkan sejak awal.

Fenomena ini banyak dibahas dalam konten edukasi branding di media sosial. Salah satunya disampaikan oleh Dodi Zulkifli melalui TikTok, yang menyoroti kekeliruan umum UKM dalam memberi nama dan posisi merek. Masalah ini terlihat sepele, namun dampaknya bisa mematikan bisnis secara perlahan.

Branding Bukan Soal Banyak Produk

Banyak pelaku usaha berpikir semakin banyak produk, semakin besar peluang penjualan. Pola pikir ini terdengar logis, tetapi sering kali bertabrakan dengan prinsip dasar branding.

One Brand One Positioning

Berdasarkan penjelasan Dodi Zulkifli di TikTok, brand besar memahami satu prinsip penting, yaitu satu merek untuk satu posisi. Setiap nama merek hanya membawa satu makna spesifik di kepala konsumen.

Kapal Api Group menjadi contoh nyata. Dalam satu grup usaha, terdapat banyak merek kopi dengan karakter berbeda. Kapal Api dikenal sebagai kopi klasik. Good Day diposisikan sebagai kopi rasa yang menyasar anak muda.

ABC Coffee bermain di segmen praktis. Excelso hadir sebagai kopi premium. Semua berada dalam satu grup, tetapi tidak dipaksakan memakai satu nama.

Strategi ini membuat setiap brand tetap tajam dan mudah diingat. Konsumen tidak perlu berpikir ulang tentang fungsi dan karakter produknya.

Fokus Lebih Kuat daripada Melebar

Fokus menciptakan asosiasi yang kuat. Ketika sebuah merek terlalu melebar, maknanya justru menghilang. Inilah yang sering terjadi pada UKM yang ingin menjual semua hal dengan satu nama.

Di tahap awal, strategi ini memang terlihat praktis. Biaya promosi terasa lebih hemat. Namun, efek jangka panjangnya sering kali merugikan.

Kesalahan Umum UKM dalam Penamaan Brand

Banyak UKM menggunakan satu nama untuk berbagai produk yang tidak saling berkaitan. Pola ini hampir selalu berakhir dengan kebingungan di sisi konsumen.

Nama yang Terlalu Generik

Dalam contoh yang disampaikan Dodi Zulkifli, sebuah brand bernama Segarindo digunakan untuk air mineral, jus, kopi, dan botol minum. Di mata pemilik usaha, nama ini terasa fleksibel dan mudah dipakai.

Namun di kepala konsumen, Segarindo menjadi tidak jelas. Apakah merek air mineral, kopi, atau jus. Ketika konsumen tidak bisa menjawabnya dalam hitungan detik, brand tersebut kehilangan daya ingat.

Positioning yang Kabur

Positioning yang tidak jelas membuat brand mati perlahan. Produk tetap ada di rak, tetapi tidak punya alasan kuat untuk dipilih. Konsumen cenderung memilih merek yang spesialisasinya jelas, meski harganya lebih tinggi.

Masalah ini bukan soal desain kemasan atau rasa produk. Akar persoalannya ada pada makna merek yang gagal terbentuk.

Dampak Branding yang Salah terhadap Penjualan

Kesalahan branding jarang terasa instan. Penurunan biasanya terjadi secara bertahap dan sering tidak disadari oleh pemilik usaha.

Nama Tidak Lagi Bermakna

Ketika positioning hilang, nama merek hanya menjadi tulisan di kemasan. Tidak ada emosi, tidak ada kepercayaan, dan tidak ada alasan untuk loyal.

Dalam kondisi ini, promosi apa pun menjadi lebih mahal. Iklan harus bekerja lebih keras karena merek tidak punya fondasi makna yang kuat.

Konsumen Sulit Merekomendasikan

Brand yang jelas mudah direkomendasikan. Sebaliknya, brand dengan identitas kabur sulit diceritakan ulang. Konsumen bingung menjelaskan apa keunggulan dan spesialisasinya.

Ini membuat pertumbuhan organik melalui rekomendasi menjadi terhambat.

Solusi Membangun Brand yang Tajam

Brand yang kuat tidak ditentukan oleh jumlah produk, tetapi oleh satu arti yang konsisten.

1. Tentukan Satu Makna Utama

Setiap brand harus menjawab satu pertanyaan sederhana. Brand ini ahli di bidang apa. Jawaban tersebut harus konsisten di semua komunikasi.

Jika ingin memperluas produk, solusi terbaik bukan memaksakan satu nama, melainkan menciptakan sub brand atau merek baru dengan positioning yang jelas.

2. Belajar dari Brand Besar

Mengacu pada praktik yang dilakukan Kapal Api Group, admin melihat bahwa keberanian memisahkan brand justru menjaga kekuatan masing-masing nama. Strategi ini relevan untuk UKM, meski skalanya berbeda.

Pendekatan ini juga sering diterapkan oleh pelaku usaha yang menggunakan jasa branding profesional untuk merancang struktur merek jangka panjang.

Branding yang Jelas Lebih Mudah Diingat

Brand yang bertahan bukan yang menjual paling banyak produk, tetapi yang memiliki makna paling jelas di kepala konsumen.

Berdasarkan penjelasan Dodi Zulkifli di TikTok, kesalahan terbesar UKM adalah memaksakan satu nama untuk semua hal hingga positioning menjadi kabur.

Branding bisnis yang efektif menuntut fokus dan keberanian memilih satu posisi. Ketika satu merek memiliki satu arti, konsumen lebih mudah mengingat, mempercayai, dan merekomendasikannya.

Langkah selanjutnya bagi pemilik usaha adalah mengevaluasi kembali makna brand yang dimiliki dan memastikan posisinya masih tajam, relevan, dan mudah dipahami.